Beranda Artikel Haji adalah Arafah

Haji adalah Arafah

412
0

Sumber foto : Pinterest, abautislam.net

 

Pelaksanaan ibadah haji disebutkan dalam Al-Qur’an “Al hajju ashurun ma’lumat” Ini kalimat yang muqoyyadah adalah ditentukan hanya pada bulan Dzulhijjah, tidak bisa dilaksanakan bulan yang lain. sama dengan solat lima waktu juga sudah ditentukan waktunya.

Berbeda dengan ibadah umrah bisa dilaksanakan pada bulan yang berbeda tanpa harus ditentukan bulannya. Perjalan penulis menunaikan ibadah haji dengan biaya min haisu la yahtashib, adalah merupakan anugrah yang tidak terkira, namun demikian penulis yakin semua kehendak allah, firman allah yang disebut man istatho’a sabila, lafadz sabila itu isim nakirah yang mempunyai makna yang tidak dibatasi dari mana kemampuan itu, diantara biaya dinas juga.

Yang membuat bahagianya penulis, Arafah yang menjadi penentu haji itu sangat lah jelas, hari dan tanggalnya dan pahala besarnya yang melimpah. Belum lagi Gusti Allah membacakan hambanya kepada malaikat yang ber wuquf di Arafah dan dihari itu allah akan membebaskannya dari api neraka, mengampuni segala dosanya, dan tidak ada upah bagi orang haji kecuali surga, dan kembalinya digambarkan Ka waladad hu ummuhu, do’anya mustajab.

Yaumul Arofah

Berbeda antara hari “yaum” dan “wukuf” (berhenti) yaumul arofah adalah hari dimana seluruh jamaah haji menuju padang, untuk melaksanakan wuquf ditempat tersebut, sebab haji akan batal atau tidak disebut haji kalau tidak melaksanakan wukuf di Arafah.

“Haji adalah Arafah” (Al hadist), secara bahasa Arafah mengetahui secara jelas setelah di dahului dengan hari yang disebut dengan tarwiyyah (keragu-raguan). Ada cerita dalam beberapa maqolah Nabi Ibrahim sempat ragu dalam mengambil keputusan atas mimpinya menyembelih putra kesayangannya, yaitu Nabi Ismail.

Yaumul Arofah sangat diistimewakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. dalam sebuah Hadist disebutkan;

“Sebaik-baiknya doa adalah doa dihari Arafah, dan sebaik baiknya ucapan para nabi sebelum ku ucapan : La ilahaillah wahdahula syari kalah, lahul mulku walahul hamdulilah wahuawa ala kulli syain qodir” ( HR. At Tirmidzi). Maka berpuasa dihari Arafah sangatlah dianjurkan bagi muslim yang tidak wuquf di Arofah (Berhaji), yang berfungsi sebagai penghapus dosa selama satu tahun sebagaimana hal tersebut telah disampaikan dalam beberapa maqolah salafussholihin.

Wuquf di Arafah

Penulis sangat merasakan berapa beratnya Dewi Hajar Istri Nabiyullah Ibrahim As, saat sendiri bersama putra nya Ismaal bayi, sebentar berada di padang Arafah yang tanpa ada pepohonan dengan hamparan pasir dan gunung-gunung batu yang menjulang tinggi sebagi Sumbul keangkuhan manusia.

Para penunai haji harus sejenak kandek/wuquf (merenung) diantara terik dan panasnya matahari, untuk dapat menyadari betapa lemah nya manusia, hanya Allah yang mampu mendinginkan cuaca.

Saat terik matahari siang menyengat, pikiran melayang saat manusia berada di padang mahsyar tanpa alasan kaki, tanpa pakaian dan tanpa ada tenda yang memberi peneduh dari sengatan terik matahari. Keangkuhan dan kesombongan manusia akan runtuh, maka saat suhu dan pikiran para jamaah haji yang demikian, banyak jamaah yang pingsan bahkan tidak sedikit yang diambil nyawanya menghadap pada Gusti Allah SWT.

Sekedar mengartikulasikan makna wuquf, adalah bentuk masdar kata waqofa-yaqifu-wuqufan, dari morfologi bahasa Arab yang mempunyai makna berhenti (kandek, makna pesantren), dan wuquf saat berhaji dilaksanakan pada waktu diantara setelah matahari tergelincir ke barat (ziwali samsyi) pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai pada terbitnya fajar di malam 10 Dzulhijjah. Ada beberapa keterangan yang membolehkan sekedar lalu berpindah ke muzdalifah (penulis tidak akan membahas itu).

Seluruh proses haji (manasik) hanya saat di padang Arafah itulah satu satunya pelaksanaan ibadah haji yang berhenti untuk merenung, melaksanakan komunikasi kepada Allah SWT, sebagai media untuk meditasi mensucikan diri dari semua sifat yang membuat rendah pada diri sendiri.

Namun berjalannya waktu, bergesernya zaman bertambahnya penduduk dan pemeluk Islam, pelaksanaan ibadah haji menjadi perhatian serius baik oleh hodimul haromain atau penyelenggara haji di masing masing negara, untuk menjaga keselamatan diri, pembatas dan inovasi dibuat sedemikian rupa agar tidak terjadi banyak korban meninggal, namun tidak meninggalkan nilai dasar ibadah haji, walaupun sedikit nuansa masa lalu untuk mengingat perjuangan nabi Ibrahim, Ismail, dan Dewi Hajar, harus berimajinasi yang lebih extra keras,

Penutup

Terik dan panasnya wuquf di Arafah tidak sebanding dengan janji Allah SWT atas pengampunan dosa yang di laksanakan sebelumnya, renungan yang disebut wiquf adalah bagian penting untuk menata dan menatap hati menjadi manusia yang lebih bijak. Mengerem dari segala makshiat, ambisius yang menghalalkan berbagai macam cara untuk memperoleh keinginannya, karena wuquf sama juga artinya mengerem dari gas pool yang tanpa mengindahkan kemashlahat, kemanusian, dan kebersamaan, hanya karena didorong ambisi yang membakar hati.

Penulis :
Warga Nahdliyin pinggiran
Lereng gunung slamet (KH. Sholahuddin Masruri, Pengasuh PP. Al-Hikmah 2 Benda)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini