DERU pendingin ruangan (AC) di ruang laboratorium komputer SMA Al Hikmah Sirampog terasa lebih kencang dibanding biasanya pada Kamis, 26 Februari lalu. Namun, hembusan udara dingin itu tak mampu meredam ketegangan puluhan siswa kelas XII yang terpaku pada layar monitor. Di sana, deretan soal rumit hasil racikan lembaga NEUTRON tengah menanti jawaban.
Perhelatan yang berlangsung pada Kamis dan Sabtu, 26 & 28 Februari 2026 ini bukan sekadar rutinitas akademik. Bagi para siswa, ini adalah “gladi resik” sebelum mereka benar-benar terjun ke medan tempur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang sesungguhnya.
Membagi Fokus dalam Sesi
Panitia menyadari betul bahwa kualitas simulasi bergantung pada ketenangan dan kenyamanan teknis. Oleh karena itu, pelaksanaan ujian dipecah secara presisi pada Kamis & Sabtu. Ujian dibagi menjadi dua sesi per hari. Ruang laboratorium komputer disulap menjadi ruang ujian steril untuk meminimalisir distraksi.
Pembagian sesi ini sengaja dilakukan untuk memastikan setiap siswa mendapatkan akses perangkat yang mumpuni, sekaligus menjaga ritme ujian agar tetap kompetitif namun terkendali.
Mengejar Skor, Memetakan Nasib
Mengapa harus menggandeng NEUTRON? Jawabannya sederhana: akurasi. Sekolah membutuhkan tolak ukur yang tajam untuk melihat sejauh mana “amunisi” yang dimiliki siswa sebelum hari penentuan tiba.
“Ini bukan hanya soal menjawab benar atau salah, tapi soal bagaimana mereka mengelola waktu dan mental di bawah tekanan sistem digita,” ujar waka humas.
Bagi para siswa SMA Al Hikmah Sirampog, hasil dari dua hari ini akan menjadi cermin. Sebuah peta jalan yang memberi tahu mereka bagian mana yang harus diperbaiki dan bagian mana yang sudah siap diadu di level nasional. Di dalam laboratorium yang sejuk itulah, mimpi-mimpi masuk perguruan tinggi negeri mulai diuji ketangguhannya.
Red_


















